Nobar Pulau Plastik di Rumah Baca 0254

Selesai nobar, kami diskusi. Anak-anak pulang

“Bagaimana mungkin kita durhaka pada ibu, sementara kita sepakat, bahwa surga berada di bawah telapak kakinya?” Suara Gede Robi terdengar nyaring. Tangan kirinya memegang gitar, sementara tangan kanannya mengepal penuh semangat. Suasana panggung kecil disajikan dengan berbagai macam ornamen hiasan di depan rumah bergaya pendopo. Nampak Bli Robi berdiri di atas panggung, lalu musik grunk mengiringinya dan lagu Ibu berdentang menjadi pembuka film dokumenter.

“Tak akan ada ibu bumi kedua, bila ibu bumi telah tiada…”

Tanggal 20 Agustus 2019, Cilegon Ecobricks bekerja sama dengan I Love Cilegon mengadakan nobar Pulau Plastik bertempat di Rumah Baca 0254, Jalan Palapa No. 43, Citangkil Cilegon. Lebih dari 20 anak hadir menonton, ditambah kami 11 orang dewasa.

Pulau  Plastik, merupakan  film dokumenter yang dibuat oleh Kopernik. Sebuah film pendek dengan durasi 24 menit ini merupakan bentuk kampanye bebas sampah plastik. Gede Robi, vokalis Navicula yang juga menjadi host dalam film pendek ini menemui Inneke Hantoro dari Universitas Katholik Soegijapranata Semarang . Inneke sedang melakukan penelitian kandungan mikroplastik pada ikan laut di pesisir  utara Semarang-Jawa Tengah.

Mikroplastik adalah sampah plastik yang sudah terurai selama berada di lingkungan dan ukurannya sangat kecil, ukurannya lebih kecil dari 5 mm. Kalau di perairan, ia akan menyebar.

Ada 450 ekor ikan laut yang dijadikan penelitian oleh Inneke. Dan dari jumlah tersebut, semuanya mengandung partikel plastik baik pecahan maupun serat. Menurut Inneke, banyak penelitian di seluruh dunia membuktikan hewan-hewan laut yang ada di perairan sudah mengandung mikroplastik.  Ikan bandeng dan kerang menjadi bahan penelitian yang ditampilkan dalam film dokumenter.

“Masyarakat belum tahu betul, dampak pemakaian plastik ke lingkungan, bahkan  mungkin nanti balik lagi meja makan kita.” Tambah Inneke dalam scene Pulau Plastik.

Dari Semarang, Gede Robi  kembali pulang ke Bali. Mengajak kita ke rumahnya  bagaimana ia melakukan manajemen pengolahan sampah dari rumah. Sampah organik dan anorganik  dipisahkan. Ia pun selalu membuat pupuk organik dari sisa-sisa sampah dan digunakan untuk tanaman di rumahnya. Tak ada sampah organik yang keluar dari rumah Gede Robi.

Gede Robi juga mengajak kita untuk melihat sampah di desa. Bagaimana sampah-sampah dari desa di hulu kemudian sampai ke hilir. Parit kecil dengan aliran air yang tak begitu besar itu dipenuhi oleh sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik. Kanan kirinya merupakan sawah-sawah petani. Dahulu, sampah yang dibuang kebanyakan sampah organik. Kini, ada 70% sampah organik dan 30 % anorganik. Dan dari sampah anorganik ini sebagian besar merupakan sampah plastik.

“Kita pikir kita buang, hanyut ke laut ilang. Ternyata dilaut  masuk ke tubuh ikan, lalu ikan dimakan oleh kita dan masuk lagi ke tubuh kita. Itu kalau di Bali namanya karmaphala.” Ujar Gede Robi dalam scene memilah dan memilih sampah di hadapan warga dan anak-anak. Karmaphala merupakan potongan dua kata, karma= perbuatan atau aksi dan phala berarti buah atau hasil. Karmaphala berarti, buah dari perbuatan baik yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan. Sumber, wikipedia.

Dalam lagu “Sampah” karya Navicula band, ada lirik yang menggelitik,

Dahulu bumi ini pernah indah. Karena Tuhan tidak pernah menciptakan sampah.

Meski Tuhan tak pernah menciptakan sampah, tapi Tuhan telah menciptakan kita manusia, sebagai perantara penghasil sampah. Maka, sudah seyogyanya kita sebagai manusia mulai belajar mengelola sampah sendiri.

Dalam Pulau Plastik, Gede Robi tak hanya menyoroti fenomena masalah sampah. Ia juga menyoroti tentang alternatif lain dalam mengurangi sampah plastik. Minimal, dengan membawa botol minum sendiri, membawa tas belanjaan, menolak penggunaan sedotan, juga menggandeng dinas setempat untuk ikut terlibat di dalamnya. Sampah merupakan masalah kita bersama dan membutuhkan banyak orang untuk penyelesaiannya. Dunia bisnis, pemerintah, saya, Anda, kita semua.

Film Pulau Plastik layak untuk dijadikan bahan kampanye kurangi sampah plastik. Di sekolah-sekolah, komunitas, instansi  dan seluruh lapisan masyarakat.

Leave your Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *